Kamis, 14 November 2013

nge-Fiksi yuk! ;)

~Cinta Datang Terlambat~
Sendirian di dalam kelas itu memang membosankan, tapi tidak jika sudah menjadi kebiasaan. “Alah bisa karena biasa” gitu sih kata pepatah. Selesai nonton bareng satu sekolah ternyata lelah juga, bukan lelah karena nontonnya, tapi lelah karena asyiknya ngumpul bareng teman. Mungkin itu sebabnya aku sendirian di dalam kelas ini, semua sudah kelelahan dan beristirahat di dalam kamar masing-masing. Kebetulan kami ini anak asrama, anak Boarding School tepatnya.
Aku? Haha terkadang memang ada masanya ketika seseorang menginginkan kesendirian. Untuk saat ini, aku ingin menyendiri terlebih dahulu, mengingat kasus yang sedang berusaha aku selesaikan. Aku menyukai teman sebayaku sendiri! Menurutku ini kasus. Kasus yang harus segera diselesaikan. Soalnya, selalau mengganggu ketenangan pribadiku. Melihatnya, suaranya, dan panggilan khasnya kepadaku itu sering membuat cabang pikiranku bertambah, ya, memikirkannya.
Baru saja berniat untuk menyelesaikannya, tiba-tiba di pintu kelasku berdiri seorang laki-laki yang mempunyai panggilan khas kepadaku itu, “ Dis, bisa bicara sebentar? “. Ya, dia memanggilku “Didis”. Sebenernya itu panggilan khusus untuk keluargaku saja, menurutku itu adalah panggilan sayang, soalnya dari nama asliku saja tak tersenggol sedikitpun kata “Didis” tersebut. “Mahelik Putri” itu namaku, dan teman-temanku yang lain biasa menyapaku dengan “Elik”, dan menurut lelaki itu  “Didis itu panggilan sayang, yang sayang berarti memanggilmu Didis.” Entah apalah maksudnya.
“ Sok, silahkan masuk aja, masa nangkring di pintu gitu?” jawabku santai, tapi jujur jantungku makin lama makin kencang degupnya. Dan bodohnya aku sangat terlihat terbata-bata saat menjawab setiap pertanyaannya. Sebenernya tak banyak yang dibicarakan, ia hanya bertanya “Seandainya aku ingin menjagamu tapi tidak menjadi pacarmu, kau bisa terima?” dengan nada datarnya, pertanyaan itu melontar seperti tak bersalah. “Apa aku punya alasan yang akurat untuk menolak? Tawaran bagus, lalu apa statusmu bagiku?” jawabku. “Kau bisa panggil aku Kadan, aku mau menjagamu seperti aku menjaga adikku sendiri.” Jawab Muhammad Dani.
Sebenarnya aku kecewa, tapi yasudahlah. Akhirnya aku mengikuti akadnya saja, menjadi adik mungkin itu lebih baik. Sekedar adik, tak akan lebih, dan jangan pernah kepedean jika diperlakukan lebih, karena aku hanya adik, hanya adik.
Benar ternyata, aku merasa seperti ada kakak, bukan pacar atau teman istimewa, dia begitu memerankan apa yang ia katakan. Mungkin sebelumnya dia sudah tahu apa yang aku rasakan, dan untuk menutupi rasaku itu mungkin saja dia berinisiatif bertindak sebelum aku yang menjauh. Kalau orang “cinta ditolak, dukun bertindak”, tapi untukku “kau tak peka, maka kita berbeda”, berbeda berarti tak sama, sudah tahu tak sama ngapain harus bersama? Nah satu hal lagi yang aku suka dari Dani, eh maksudku Kadan adalah dia selalu peka dengan gerak-gerikku.
                                                                  ***
Sudah hampir satu tahun kakak-adik ini berjalan. Akupun tak pernah menempatkan diri sebagai hal istimewa dihadapannya, tingkahku seperti biasa, bahkan beberapa aibku sudah diketahuinya. Contoh, di hari libur terkadang aku mengharamkan air untuk mandi haha, malas sekali rasanya. Seingatku kami memulai semuanya itu bulan Juli tahun 1996, sekarang sudah Juni 1997. Sekarang Juni? Okedeh, itu tandanya ulang tahun dan perpisahan serta kelulusan sekolahpun tinggal menghitung hari. Terhitung dari sekarang, ulang tahunku 10 hari lagi, dan perpisahan sekolah 15 hari lagi.
Dari dua bulan yang lalu, teman-temanku yang lain selalu mengejek-ejek aku dan Kadan, meski terkadang aku ataupun Kadan memang sering salah tingkah saat di cie-ciekan. Tapi kami anggap itu semua hanya humor saja, toh aku juga tak yakin Kadan menyukaiku lebih dari adik.
Tiba-tiba saja sms Kadan muncul di layar HP-ku, “darimana Kadan bisa sms? Bukannya HP dikumpulin di Boarding?” tanyaku dalam hati dan langsung ku ketik di HP lalu dikirim ke Kadan. Oh, ternyata Kadan pulang ke pulaunya, Sulawesi. Disini, di kota Parahyangan yang ramai ini, aku merasa menjadi sepi sekali. UAS sudah, Ujian Praktik sudah, UN-pun juga sudah, jadi untuk apalagi diam di Boarding ini? Mending pulangkan?. Tindakan Kadan emang tepat. Tapi ntah kenapa aku malas sekali pulang, rumahku jauh soalnya, di daerah Cicaheum haha, sebenernya hanya se-jengkal sih dari Boarding.
“Dis, sepertinya saya sudah tidak bisa lagi jadi kakak kamu deh..” tiba-tiba aku terdiam oleh sms Kadan .
“ Kenapa kak? Gara-gara kita bakalan jauh ya nantinya? “ Tanyaku.
“ Mungkin itu faktor lainnya..” jawab Kadan
“ Jadi faktor utamanya apa? Kadan udah punya pacar ya? Jadi takut sama pacarnya?”
“ Tidak.. tidak.. tidak sama sekali. Aku saat ini sedang tidak menyukai siapa-siapa! Tenang sajaa..”
Aku bingung, kenapa Kadan begitu histerisnya saat ku ungkit masalah pacar.
“ Lalu apa alasan utamanya, Kadan?” tanyaku lagi.
“ Kau pernah dengar tentang perkataan teman kelas kita beberapa bulan yang lalu? Aku harap kau paham maksudku ini. Aku tak ingin lagi menjadi kakakmu, karna aku menyayangimu lebih dari sekedar adik. Sebentar lagi HP-mu akan dikumpulkan, waktu penggunaan HP akan segera habis. Segeralah jawab! Menurutmu, apakah pantas aku berbicara seperti ini? Apa sama yang kita rasakan sekarang?”. Tak tahu harus berkata apa, tapi yang pasti aku harus jujur.
“Makasih Kadan buat semua pengakuannya, tapi jujur untuk H-15 perpisahan kita ini, sampai sekarang aku masih menganggapmu seperti kakakku” jawabku sekaligus menutup smsan kami pada sore itu, soalnya Ibu Boarding sudah teriak-teriak agar HP segera dikumpulkan kembali kepada Boarding.
Hari-hari terus berjalan. Hingga H-7 kelulusan, kuputuskan untuk pulang saja, bosan juga ternyata. Anehnya, selama diperjalanan pulang itu, smsan aku dan Kadan yang terakhir kemarin berulang kali kubaca. “Aku rindu kak” tiba-tiba saja hatiku bicara. Nah, mulai dari sanalah aku merasa ada yang berbeda dengan  diriku ini.
H-5 kelulusan. Itu artinya hari ini adalah hari ulang tahunku. Sedikit beraninya ku balas sms Kadan dengan pertanyaan semacam ini, “ Kak, aku mau ngungkit pembicaraan kita 10 hari yang lalu. Seandainya hari ini, di hari ulang tahunku ini, aku putuskan bahwa kita punya rasa yang sama, bagaimana kak? Apa ini telat bagiku?” haduuh.. jariku gemetaran. “Tak ada kata terlambat, meski 5 hari lagi kita akan terpisah. Kau akan melanjutkan sekolahmu di Bandung itu dan aku harus kembali ke Sulawesi..” jawab Kadan. Meski aku tahu, ini sangat terlambat.
                                                                      ***
Kabar kepulangan Kadan sudah sampai ke telingaku. Kadan baru sampai tadi malam. Aku sudah 2 hari di Boarding. kembali lagi untuk mempersiapkan diri atas hari esok yang dinanti-nanti. Kelulusan lalu perpisahan.
Ini adalah hari H-nya. Ijazah dan semua berkasku sudah ada ditangan. Semua koper dan tas jinjingku sudah siap, tinggal diangkut lalu dimasukkan mobil dan berangkat. Tapi sebelum semua itu terjadi, aku harus menemui Kadan terlebih dahulu, harus! Sedih rasanya harus mengetahui bahwa Kadan harus kembali ke Sulawesi. Mungkin hari ini adalah hari terakhir untukku dan Kadan bertemu, entah kapan lagi bisa seperti dulu.
“Kadaaannn…!!”  aku berlari dan kakiku terhenti di jarak sekitar satu meter di hadapan Kadan.
“ Didis, ini buatmu, di jaga baik-baik. Maafkan Kadan hanya bisa berikan ini. Didis jaga diri juga jaga hati.” Sambil mengulurkan tangannya yang berisi peci. Kadan menyerahkan peci kesayangannya kepadaku, meski sedikit lusuh, tapi inilah Kadan, terkenal dengan pecinya yang rutin dipakai kemana-mana. Dia lelaki yang shaleh, menurutku dan menurut semua orang di Boarding. Air mataku tak terbendung, mengalir terus. Tapi tak ku beranikan untuk memamerkan padanya.
            Tak lama barulah kuangkat kepalaku untuk melihat orang yang kusayangi pergi masuk ke mobil hitam itu. Ia  pergi bersama semua bayang serta lambaian tangannya.  Yang tertinggal hanya semua kenanganku bersamanya.
            “Kadan… tak akan ada yang menggantikanmu, aku menjamin itu” Mahelik Putri.
 Sesampainya di rumah, aku mencoba memakai peci Kadan. Tiba-tiba saja secarik kertas terjatuh dari dalam peci tersebut. “ Kepada adikku, Mahelik Putri. Aku ada dalam prasangkamu, jangan takut. Jangan khawatir bila jarak memisahkan kita. Dan dengan surat ini, aku memutuskan untuk menghentikan komunikasi kita, sampai takdir Tuhan mempertemukan kita kembali, dalam kesuksesan masing-masing tentunya. Mahelik Putri, aku mohon, jaga hatimu dan jangan terlalu meikirkanku.” Lewat suratnya, Kadan membuat air mata ini tambah tidak terbendung. Aku ingin penjelasan Kadan! Apa maksudnya menghentikan komunikasi? Aku harus menghubungi Kadan! Harus.
“kosong lapan lima tujuh dua puluh tujuh empat tiga tujuh dua lima” ucapku sambil memencet tombol handphone.
Dari ujung sana, aku mendapat jawaban “Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan..”